informasipublik.my.id | JAKARTA,15 Agustus 2026 - Gagasan Presiden tentang kewarganegaraan ganda terbatas membuka pintu reformasi besar. Tetapi reformasi tidak boleh berhenti pada elite global, diaspora sukses, atau talenta yang "sudah jadi". Justru ujian sebenarnya ada pada Anak Berkewarganegaraan Ganda (ABG). Jika Indonesia ingin mempertahankan keterikatan generasi global, memperkuat soft power diaspora, dan bersaing dalam perebutan talenta dunia, kebijakan kewarganegaraan tidak biasa lagu bersifat ekslusif dan satu arah.
HAKAN mendorong pendekatan yang lebih berani, yaitu kewarganegaraan ganda terbatas yang juga mencakup ABG, dengan pengaturan ketat dan berbasis kepentingan nasional. Negara tetap berhak mengatur registrasi dan pengawasan, kewajiban hukum dan pajak tertentu, pembatasan jabatan strategis (pertahanan, intelijen, keamanan), serta mekanisme loyalitas konstitusional. Namun, negara tidak boleh lagi memutus ikatan identitas secara paksa hanya karena usia administratif.
Kedaulatan Tidak Hilang karena Kewarganegaraan Ganda, tetapi karena Kehilangan Generasi
Argumentasi lama yang selalu muncul adalah soal kedaulatan hari ini tidak hanya berubah. Kedaulatan hari ini tidak hanya ditentukan oleh siapa yang berkontribusi pada ekonomi dan inovasi, serta siapa yang menjadi jembatan Indonesia dengan dunia. Jika Indonesia terus memaksa ABG memilih terlalu dini, yang hilang bukan hanya status kewarganegaraan, melainkan keterikatan jangka panjang dengan Indonesia itu sendiri
Negara Harus Berhenti Memutuskan Ikatan yang Belum Sempat Dewasa
HAKAN menegaskan kembali: ABG bukan masalah administratif. Mereka adalah generasi yang sedang berada di persimpangan dunia, tetapi masih memiliki akar yang kuat di Indonesia. Oleh karena itu, kebijakan kewarganegaraan tidak boleh lagi bersifat memaksa, melainkan harus adaptif, strategis, dan berpihak pada masa depan bangsa.
Momentum yang diberikan buka Presiden harus dibaca secara lebih dalam. Ini bukan hanya tentang membuka kewarganegaraan bagi diaspora, tetapi tentang menghentikan kebiasaan negara memutus ikatan dengan anak-anaknya sendiri
HAKAN percaya jika Indonesia ingin menjadi kekuatan global, ia harus berhenti kehilangan generasi globalnya sendiri. Dan itu dimulai dari satu hal sederhana tetapi fundamental: jangan paksa mereka memilih terlalu dini. Jangan paksa mereka memilih terlalu dini. Jangan paksa mereka benar-benar siap.
Oleh: Analia Trisna, MM.
Ketua Umum DPP HAKAN (Harapan Keluarga Antar Negara).
Editor: Gurgur Saut.

Social Header