INFORMASI PUBLIK | DUMAI,– Upaya restorasi lingkungan melalui program Green Restoration of Our World (GROW) 2026 terus berlanjut di Provinsi Riau. Kali ini, kegiatan difokuskan pada kawasan pesisir melalui aksi penanaman bibit mangrove yang dilaksanakan di Pantai Bahtera Alam Guntung, Kota Dumai, pada 29 April 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari target penanaman 14.505 bibit pohon di 12 kabupaten/kota se-Provinsi Riau, yang dilaksanakan melalui kolaborasi antara SKK Migas Sumbagut, KKKS Wilayah Riau, dan World Cleanup Day (WCD) Riau.
Di Kota Dumai, dialokasikan sebanyak 1.405 bibit pohon, dengan pendekatan yang berbeda dibandingkan lokasi lainnya. Pada kawasan pesisir, penanaman difokuskan pada tanaman mangrove sebagai vegetasi khas yang memiliki fungsi ekologis penting, terutama dalam menahan abrasi, melindungi garis pantai, serta menjaga habitat biota pesisir.
Selain itu, mangrove juga berperan dalam penyerapan karbon biru (blue carbon) yang signifikan, sehingga menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan iklim, khususnya di wilayah pesisir yang rentan terhadap perubahan lingkungan.
Di luar kawasan pesisir, program ini juga tetap menyalurkan bibit tanaman produktif kepada masyarakat, seperti mangga, durian, rambutan, kapulasan, serta jenis tanaman lainnya yang memiliki nilai ekonomis dan ekologis, guna mendukung penghijauan di lingkungan permukiman.
Kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya SKK Migas Perwakilan Sumbagut, PT. Pertamina Hulu Rokan, Dinas Lingkungan Hidup Kota Dumai Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Camat Medang Kampai, Lurah Guntung, Kapolsek Kecamatan Medang Kampai, Danpos Ramil Medang Kampai, Babinsa Kelurahan Guntung, Bhabinkamtibmas Kelurahan Teluk Makmur, dan Ketua RT 02 selaku perwakilan masyarakat setempat.
Kolaborasi lintas sektor ini menjadi fondasi penting dalam upaya restorasi pesisir yang berkelanjutan, di mana pendekatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada penanaman, tetapi juga pada penguatan fungsi ekosistem alami dalam jangka panjang.
Perwakilan SKK Migas Sumbagut melalui Staff Departemen Formalitas dan Komunikasi, Suci Masliawati menyampaikan bahwa pendekatan berbasis ekosistem menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program di wilayah pesisir.
“Melalui GROW 2026 di Kota Dumai, kami mendorong pendekatan restorasi yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah, khususnya kawasan pesisir. Penanaman mangrove menjadi langkah strategis dalam memperkuat perlindungan alami terhadap abrasi sekaligus mendukung upaya mitigasi perubahan iklim melalui optimalisasi potensi blue carbon,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keberlanjutan program membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
“Sinergi antara pemerintah, sektor industri, dan masyarakat menjadi kunci dalam memastikan keberlanjutan upaya restorasi ini, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara jangka panjang, baik dari sisi lingkungan maupun sosial,” tambahnya.
Melalui pelaksanaan GROW 2026 di Kota Dumai, diharapkan kawasan pesisir semakin tangguh dalam menghadapi tekanan lingkungan, sekaligus memperkuat peran ekosistem mangrove sebagai pelindung alami dan penyokong keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir.


Social Header